KONSEP KERAJAAN ALLAH DALAM INJIL MENURUT : Donald Guthrie DAN Roy B. Zuck
SEKOLAH TINGGI
ALKITAB JEMBER
TUGAS TEOLOGI PERJANJIAN BARU I
KONSEP KERAJAAN ALLAH
DALAM INJIL DAN KISAH PARA RASUL
I.
Pendahuluan
Pengertian kerajaan
menurut KBBI Offline adalah bentuk pemerintah
yang dikepalain
oleh raja[1]. Donald Guthre juga berpendapat bahwa kerajaan bukan
berarti suatu wilayah pemerintahan
seorang raja saja, melaikan perbuatan atau aktivitas pemerintahan.[2] Roy B. Zuck juga mengatakan bahwa Kerajaan Allah mengandung gagasan ruang
atau kekuasaan fisik atau suatu wilayah, termasuk manusia dan tanah, yang
berada di bawah kekuasaan seorang raja[3]
Dalam pemaparan kali ini kami
akan memaparkan mengenai Konsep Kerajaan Allah dalam kitab injil dan juga kisah
Para Rasul. Kita semua mengetahui bahwa Kerajaan Allah adalah Pemerintahan
Allah sebagai Raja yang hendak dilaksanakan di sorga maupun
di bumi[4].
Kerajaan Allah menunjuk kepada adanya
hubungan antara masa sekarang dan masa yang akan datang. Perwujudan ini akan
lengkap bukan hanya dalam Kerajaan yang akan datang.
Istilah”kerajaan Sorga” (harafiah: Kerajaan
Sorga, Yunani: “hê
basileia tou theou”). [5]Bagi
orang Yahudi kata “Allah” sangat sakral untuk digunakan sembarangan. Kalau
dilihat dari Injil matius, matius menulis kepada orang Yahudi, itulah yang
menyebabkan ia lebih sering memakai istilah “Kerajaan Allah atau Sorga” dengan
kata lain (kerajaan Langit), jadi dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Allah adalah
situasi dimana Allah memerintah secara langsung.
Memperhatikan beberapa definisi di atas, jelas bahwa terdapat perbedaan di
antara para ahli untuk memberi definisi terhadap kerajaan Allah. ketika membaca
injil sinoptik, terdapat banyak ayat yang juga berbicara secara berbeda
mengenai hal tersebut. Akan tetapi, bedasarkan pendapat di atas dan cara
Alkitab menjelaskan konsep Kerajaan Allah, maka Kerajaan Allah jelas merupakan
pemerintahan Allah yang mana telah memasuki zaman ini melalui kehadiran Yesus
Kristus dan akan menjadi sempurna pada saat kedatangan-Nya untuk kedua kalinya.
A. Penjelasan Struktur
Ada dua pokok utama
yang harus kita perhatikan dalam membahas misi Kristus. bagian utama dari
amanatnya. Tak dapat di sangka bahwa sebagai upaya untuk mengungkapkan
kehadiran kerajaan Allah. Pertama-tama kita akan meneliti bukti PB dengan
tujuan untuk mengetahui apa yang Yesus
maksudkan dengan kerajaan Allah itu dan bagaimana Ia memahami peranannya
didalamnya.
Pokok utama yang kedua
ialah penjelasan tentang kematian Yesus. Kita akan menelaah apakah Yesus
sendiri mengharapkan kematianNya di atas kayu salib, dan bila demikian
bagaimana ia menafsirkannya. Jemaat mula-mula telah berusaha memahami soal
salib Kristus, yang terbukti bukan hanya merupakan batu sandungan bagi
orang-orang yahudi dan kebodohan bagi orang-orang Yunani, melainkan juga
merupakan hal yang tidak mudah dimengerti, oleh orang-orang Kristen. Kita akan
melihat bahwa untuk menjelaskan rahasia ini. PB memakai istilah-istilah yang
beraneka ragam. Namun tidak pernah disangsikan bahwa salib Kristus di pandang
sebagai pusat teologi Kristen.
Sekilah kedua
pusat perhatian yang utama itu mungkin
dianggap sama-sekali tidak saling berhubungan. Pertanyaan yang mucul secara
spontan dalam pikiran kita ialah mengapa pendiri kerajaan itu harus mati?
Jawabannya tentu terletak pada pengertian akan hakikatny dari kewargaan
Kerajaan Itu. Karena hal itu bersifat rohani, maka para warganya membutuhkan
kualifikasi-kualifikasi rohani juga. Tetapi hal ini sekaligus menimbulkan
masalah tentang keterasingan manusia dari Allah. jawaban PB berpusat pada
pekerjaan penebusan Kristus. Pekerjaan penebusan itulah yang menadi dasar untuk
penggembangan pengajaran tentang kerajaan Allah.[6]
B.
Pemberitaan Kerajaan
1.
Dalam kitab Injil
Kata Kerajaan dalam hal ini mengacu pada
pelaksanaan kekuasaan atau otoritas. Dalam pemakaian istilah ini ada lebih
banyak pengertian dinamis atau aktif,
yang merujuk pelaksanaan kehendak penguasa atau kedaulatannya atas rakyatnya. Karenanya kata itu mengandung gagasan statis
atau ruang yang terkait dengannya, juga pemahaman dinamis atau spiritual. Kata
“dominion” (kekuasaan) dalam bahasa inggris mungkin menggambarkan pengertian
ini, karena kata itu bisa di pakai untuk penggunaan otoritas dan suatu wilayah
atau kerajaan yang didalamnya otoritas ini diterapkan.
Matius menulis tentang Kerajaan Allah atau
Kerajaan Anak Manusia. Tetapi beberapa
pernyataan khusus itu diteliti, ulasan umum tentang ekspresi yang khas untuk
Injil Matius perlu dibahas lebih dahulu. Yang perlu diperhatikan ialah
bagaimana Matius memakai untuk frasa “ Kerajaan Sorga” dalam perikop-perikop
dimana Markus dan Lukas dalam tulisan mereka menyebutnya “Kerajaan Allah”
(mis., Mat 13:31 ; Mrk 4: 30 ; Luk 13:18).
Pemakaian kata kerja pasif untuk menjelaskan
tindakan Allah telah dibahas sebelumnya
sebagai suatu cara yang sopan yang dipakai orang Yahudi untuk menggambarkan
sesuatu yang telah dilakukan Allah tanpa menyebutkan namaNya karena subjek
lebih mudah dihilangkan dengan kata kerja pasif. Kata Sorga, kediaman Allah,
yang dipakai sebagai ganti nama Allah, merupakan bentuk lain dari penghormatan
ini. Frasa ini hanya muncul dalam Injil Matius. Namun Matius juga memakai
ekspresi “Kerajaan Allah” empat kali (Mat 12 :18; 19:24 ; 21:31, 43) sehingga
mengandung makna bahwa perbedaan dalam Klasifikasi lebih bersifat Preferensi
atau penghargaan, bukan hal lain.
Mengapa kerajaan Surga sering disebutkan dalam
injil matius tetapi tidak pernah dalam injil-injil lain tidak jelas. Mungkin
Yesus memakai dua ekspresi itu, tetapi markus dan lukas hanya memilih memakai
secara konsisten frasa Kerajaan Allah karena hal itu tidak begitu jelas bagi
para pembaca bukan Yahudi dari pada ekspresi Kerajaan Surga yang lebih bersifat
Yahudi. Jelaslah bahwa Matius menilai dua frasa itu sebenarnya sinonim dari
perikop sepert Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
(Mat 19:23-24), di mana Yesus berkata kepada
murid-murid, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya
untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga . . . lebih mudah seekor unta masuk melalui
lubang jarum dari pada seorang kaya masuk kedalam kerajaan Allah.
Jadi frasa “Kerajaan Allah” merupakan sebutan
yang disertai fleksibilitas, yang karakteristiknya dalam beberapa hal sebanding
dengan pengalaman keselamatan dalam tulisan PB yang terkait. Perbedaannya ialah
maksud dari perkataan tentang Kerajaan Allah mengingatkan pembaca bahwa fokus
mereka sepenuhnya ialah Allah dan apa yang dilakukan Dia dan AnakNya.[7]
2.
Kisa para rasul
Dalam
Kisah Para Rasul kerajaan disebutkan beberapa kali sebagai pokok pemberitaan
dan kesaksian, misalnya (Kis, 19:8 ; 20:25 ; 28:23). Kisah Para Rasul 19 :8
disusul dengan ungkapan “ Firman Tuhan” dalam Kisah para Rasul 19 : 10,
ungkapan yang lebih lazim dalam kitab ini. Kedua ungkapan itu, Kerajaan Allah
dan Firman Tuhan, rupanya sinonim. Demikian Kisah Para Rasul 20:24-25, dalam
pesan Paulus kepada para penatua di efesus, Kerajaan disejajarkan dengan “Injil
Kasih karunia Allah”. Ketika Paulus
menjadi tawanan di Roma, ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajarkan tentang
Tuhan Yesus kepada semua orang yang datang kepadanya (Kis 28: 31). [8]
Kesimpulan
Memperhatikan seluruh pembahasan maka
ada beberapa kesimpulan tentang Kerajaan Allah dalam Injil. Kesimpulan-kesimpulan tersebut, antara lain: Pertama, Kerajaan Allah merupakan
pemerintahan Allah yang telah memasuki zaman ini melalui kehadiran Yesus dan
akan menjadi sempurna pada saat kedatangan-Nya untuk kedua kalinya. Kedua,
Ungkapan Kerajaan Allah dan Kerajaan Sorga memiliki makna yang sama, tanpa ada
maksud untuk membedakan kedua objek dari ungkapan tersebut. Pemakaian Kerajaan Sorga oleh Matius lebih
kepada latar belakang ke-Yahudia-an Matius, untuk menghindari pemakaian nama
Allah. Ketiga, Sinoptik menegaskan bahwa Kerajaan Allah yang akan datang
merupakan sesuatu yang rahasia dan tidak diketahui kepastian waktunya. Hanya saja ada tanda-tanda zaman yang dapat
dikenali sebagai tanda kedatangan Yesus yang kedua kali.
Comments
Post a Comment