SEJARAH GEREJA UMUM
A. Pendahuluan
Dalam zaman postmodern tentunya banyak sekali hambatan yang mungkin
dapat menghalangi cara pandang manusia tentang pentingnya mengenal sejarah. Di
karena kan dengan adanya teknologi yang semakin canggih membuat segalah yang di
inginkan serba bisa, tentunya perlu diperhatikan akan keberlangsungan hidup
setiap individu dalam pertumbuhan koknitif seseorang. Perlunya antisipasi atas
apa yang sedang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang di jalani, karena
begitu banyak cara pandang atau pemikiran-pemikiran manusia yang mempengaruhi
banyakmempelajari sejarah orang untuk melangkah dalam sesuatu perbuatan yang
tidak benar dan sangat salah karenanya pentingnya kita mempelajari sejarah.
Jika
kita memiliki kekayaan, maka sisipkanlah sebagian untuk menuntut ilmu. Karena
itu adalah investasi terbaik.
B. Ringkasan isi
Pertemuan Injil dengan Indonesia tidak dapat dilepaskan dengan perjalanan
Injil itusendiri. Hal ini tampak dalam perjalanan Injil dari Yerusalem, Yudea,
dan Samaria sampai keujung bumi. Pada satu pihak ada perjalanan Injil ke arah
barat dan juga perjalanan Injil ke arahTimur. Awal dari perjalanan Injil ke
arah barat itu dapat ditelusuri dalam kitab Kisah Para Rasul.Sedangkan
Perjalanan Injil ke arah timur tidak tercatat dalam Alkitab dan hanya diketahui
lewatsejarah saja, meskipun catatan-catatan sejarah mengenai perjalanan Injil
ke arah timur ini punsangat sedikit.
Ditambah lagi pula hasil perjalanan Injil ke arah timur kemudian hampir
lenyap. Oleh sebab itu, perjalanan Injil ke arah timur ini hampir tidak
diketahui dan hampir tidak dikenaldi Indonesia.Salah satu gereja yang
terpenting sebagai hasil dari perjalanan Injil ke arah timur ini ialahGereja
Nestoriah. Gereja Nestoriah itu lama berpusat di Baghdad. Dari abad ke-6 sampai
abadke-13 Gereja Nestoriah telah menjalankan pekabaran Injil yang sangat luas
sampai ke India danCina. Para penginjil dari Gereja Nestoriah itulah yang
menerjemahkan Alkitab untuk pertamakali dalam bahasa Cina.
Dalam suatu buku dalam bahasa Arab yang ditulis oleh Shaykh AbuSalih
al-Armini dikatakan bahwa di Fansur (Barus), di pantai Barat Tapanuli, terdapat
banyak Gereja Nestoriah. Ada petunjuk-petunjuk bahwa kaum Nestoriah telah
hadir di Barus sejak tahun645.
Dalam abad ke-14 dan ke-15 Gereja Nestoriah itu praktis lenyap, walaupun
sampaisekarang masih ada sisa-sisanya di Iran dan Irak. Gereja Nestoriah di
Barus telah lenyap tanpameninggalkan bekas. penginjil dari Gereja Nestoriah
tidak pernah menerjemahkan Alkitabke bahasa Melayu, yang pada abad ke-7 telah
luas tersebar di kawasan Asia Tenggara.
Dengan demikian kita lihat bahwa Injil telah tiba di Indonesia untuk
pertama kali dalam rangka perjalanan Injil dari Yerusalem ke arah timur,
lama sebelum Islam tiba di Indonesia. Tetapikedatangan pertama Injil di
Indonesia itu tidak meninggalkan bekas. Injil telah datang untuk kedua
kali di Indonesia melalui jalan yang panjang, yaitu dari Yerusalem ke arah
barat, ke Eropa,dan baru pada abad ke-16 Injil kembali ke Indonesia dari Eropa
bersamaan waktu dengankedatangan orang-orang Portugis, yang kemudian disusul
oleh kedatangan orang-orang Belanda pada abad ke-17.
Dalam hubungan itu baiklah kita baca
Kisah Para Rasul 16:8-10. Di situ kita baca bahwaRasul Paulus tidak memunyai
rencana untuk membawa Injil dari Asia ke Eropa, yaitu keMakedonia. Membawa
Injil dari Asia ke Eropa bukan strategi Paulus, melainkan strategi RohYesus
sendiri (Kisah Para Rasul 16:8). Sejarah dunia dan sejarah gereja akan lain
sama sekaliandaikata Injil tidak dibawa dari Asia ke Eropa, artinya ke dunia
Barat. Pada waktu Injil tiba diIndonesia untuk pertama kali pada abad ke-7 dan
untuk kedua kali dalam abad ke-16, Indonesiatelah memunyai perkembangan yang
menarik dari segi sejarah dan dari segi agama serta kebudayaan.
Injil tidak tiba di Indonesia dalam keadaan yang "kosong" dari
segi agama dan kebudayaan. Dapat kita catat adanya beberapa "lapisan"
dalam sejarah keagamaan dan kebudayaan kita sehingga Indonesia dapat kita lihat
sebagai suatu kue lapis yang memperlihatkan lapisan-lapisan keagamaan dan
kebudayaan yang memunyai coraknya masing-masing.Dari keterangan di atas
kemudian dapat ditelusuri bahwa pada umumnya masyarakat Indonesia termasuk para
sejarawannya, demikian pula dengan gereja berpendapat bahwa Injil baru
masuk ke Indonesia bersamaan dengan kedatangan bangsa Portugis di awal abad
ke-16.
Bagi kalangan Kristen Protestan hal ini diperkuat dengan tulisan DR. Th.
Malin Krueger dalam buku standar tentang Sejarah Gereja di Indonesia, yang
mengatakan bahwa tidak didapati sedikit pun bekas Pekabaran Injil di
Indonesia, dan tidak terdapat seorang Kristen pun di Indonesiasebelum
kedatangan bangsa Portugis sebab merekalah yang pertama-tama menyiarkan
AgamaKristen di Indonesia.Meskipun penelitian yang lebih seksama dengan
menggunakan sumber-sumber tulisanyang lebih kuno di Timur Tengah, membuktikan
hal yang sebaliknya. Bermula denganmemuncaknya pertentangan antara Gereja Barat
dengan Gereja Timur yang berakibatterpisahnya gereja, maka Gereja Timur berdiri
sendiri dengan pimpinannya seorang uskup diPersia dengan memakai gelar
Ketholikos, di tahun 410. Gereja ini
kemudian dikenal sebagaiGereja Khaldea, atau Gereja Syria Timur.
Gereja ini adalah pengikut ajaran Nestorius, sehingga juga dikenal
sebagai gereja Nestorian (Nestorian, Nusthuri/Nasathariah). Sampai sekitar abad
ke-13, pusat gereja ini berkedudukan di Baghdad dan wilayah wewenang
pelayanannya meliputiCyprus, Irak, Iran, Manchuria, Mongolia, India, Sri Lanka,
Sumatera dan Jawa.Dalam sebuah naskah kuno tulisan Shaykh Abu Salih al-Armini,
terdapat daftar dari 707 gereja dan 181 biara yang tersebar dimana-mana, yang
termasuk dalam wilayah pelayanan provinsi Mesir, di antaranya termasuk
Indonesia.
Dalam naskah itu disebut Fansur yang disebutterdapat banyak gereja dan
biara. Fansur atau Pancur adalah kota pelabuhan di Sumatera Utara,yang terletak
di dekat kota Barus yang waktu itu sangat ramai sebagai kota
pelabuhan perdagangan kapur barus, hal ini dicatat di sekitar abad ke 7.
Berita kemudian yang masihmenyebut adanya gereja di Sumatera ditulis oleh
Metropolit Gereja Suriah Timur yang bertugasantara tahun 1291-1319, yang
mencantumkan keuskupan agung Dabhagh (Sumatera).
Sumber lain yang menyebut masih adanya gereja dan orang Kristen di Indonesia,adalah
catatan perjalanan Uskup Joa de Marignoli OFM, Duta Besar Paus Clemens VI di
Peking, yang pernah berkunjung ke Sumatera (Kerajaan Sriwijaya) dan masih
sempat melayani orang-orang Kristen di sana pada tahun 1346. Hingga akhirnya
jejak dari masa kekristenan pada awalmasuk ke Indonesia hilang dan tidak lagi
diketahui proses perkembangannya. Apa yang terjadidengan orang Kristen masa itu
masih belum jelas, namun suatu penggalian yang diadakan ditahun 1610 di Malaka,
menemukan puing-puing gereja dengan hiasan salib bergaya Khaldea.
Di Abad XVI terjadi perubahan besar di dunia politik dan perdagangan yang
ditandaidengan ditemukannya jalan laut ke Asia oleh Eropa. Dimulailah
perjalanan ekspedisi besar- besaran yang ditandai dengan berhasilnya
Portugis merebut Malaka di tahun 1511, sebuah kotayang menjadi pusat
perdagangan di Nusantara. Dari sini mereka mengirim armadanya dan
berhasil menguasai wilayah Maluku, sumber rempah-rempah sebagai komoditi
perdagangan yang bernilai jual tinggi waktu itu. Sementara itu Kerajaan
Majapahit mulai kehilangankekuasaannya. Kerajaan-kerajaan pantai di Sumatera
mulai menyatakan diri berdiri sendiri, jugadi Jawa, kerajaan-kerajaan terutama
di kota-kota pelabuhan semakin berani untuk melepaskandiri dari Majapahit. Perkembangan
ini berjalan seiring dengan semakin luasnya pengaruh Islamyang berkembang
dengan pesat pada abad ke-15 hingga ke-16.
Terkait dengan penyebaran Agama Katolik dimulai bersamaan dengan
datangnya bangsa portugis setelah berhasil menguasai Malaka yang waktu itu
memegang peranan penting perdagangan, yang kemudian dijadikan pusat
kegiatan misi. Pada tahun 1555 diresmikanlahkeuskupan Malaka yang mencakup
Indonesia. Penyebaran Agama Katolik terutama di kalanganrakyat yang menganut
kepercayaan lama. Sesuai dengan prinsip Kerajaan Katolik waktu itu,maka
pekerjaan misi didukung dan dibiayai sepenuhnya oleh Negara dimana hal inidipercayakan
oleh Paus kepada Raja. Namun, di tahap pertama ini tidak
nampak pekerjaan misi yang cukup terarah, karena terlalu tergantung
pada perkembangan penguasa Portugis.
Pekerjaan misi yang sungguh baru terjadi adalah dengan kedatangan
Fransiskus Xaverius di tahun 1546 sampai 1547. Sehingga pekerjaan misi kemudian
mencapai Sulawesi Utara, beberapa tempat di jawa khususnya didaerah yang masih
ada pengaruh Hindu, dan Kalimantan. Peristiwa penting dalam sejarah politik di
Asia Tenggara pada akhir abad ke-16 danawal abad ke-17 adalah terjadinya
peralihan kekuasaan kolonial, dari Portugis kepada pihak Belanda. Tujuannya tetap sama untuk menguasai
daerah sumber bahan perdagangan. Sebabitu penguasaan daerah jajahan itu
dilaksanakan melalui suatu badan perdagangan yang disebutVOC (Verenigde
Osstindiesche Compagnie), yang mendapat hak monopoli dari pemerintahnyadi
negeri Belanda, termasuk hak memiliki tentara sendiri, mencetak uang sendiri,
mengambilkeputusan untuk berperang serta mengadakan perjanjian.
Pada mulanya VOC hanya memerlukan pelayanan rohani untuk melayani
orang-orangmereka sendiri. Kemudian mereka diperhadapkan dengan soal baru, setelah
melihat bahwa adaorang-orang Kristen Indonesia peninggalan Misi Katolik. Jumlah
orang Katolik di Maluku,Sulawesi Utara, Pulau Siau dan Sangir disebut sekitar
40.000 jiwa. Menurut pemikiran waktu itu,maka adalah hak dan kewajiban VOC
untuk membuat orang Katolik itu menjadi Protestan,sesuai dengan agama yang
dianut oleh penguasa.
Tentu ada juga latar belakang politik, sebabVOC khawatir jika mereka tetap
dibiarkan Katolik sekali waktu mereka
dapat mengundang Spanyol. Selanjutnya antara tahun 1708-1771 (selama 63 tahun),
jumlah orangIndonesia yang dibaptis berjumlah 43.748 jiwa, di antaranya hanya
1.205 yang boleh ikut perayaan Perjamuan Kudus. Maka, bila diperhitungkan
jumlah orang Katolik yang ditinggalkanoleh Misi Portugis sebanyak 40.000 jiwa,
maka pada dasarnya di masa VOC dapat dikatakangereja sama sekali tidak
berkembang secara signifikan dan berarti.
Babak berikut yang sangat berarti dalam sejarah penyebaran Injil di
Indonesia adalah dengan berakhirnya keberadaan VOC setelah berkuasa selama 200
tahun tepatnya pada 1799.Pemerintah Belanda yang akhirnya melanjutkan
penguasaannya di Indonesia, namun tidak melihat dirinya sebagai “penguasa
Kristen”, melainkan suatu pemerintah sekuler.
Terhadap masalah keagamaan, pemerintah Belanda bersikap netral. Di bawah
Gubernur Jenderal Daendels,diproklamasikanlah kebebasan agama yang berarti juga
berakhirnya monopoli Kristen Calvinis,dan kebebasan bagi Gereja Lutheran.
Sedangkan Katolik mendapat ijin kembali untuk mengadakan pekerjaan misi
dan mendatangkan Imam ke Indonesia. Begitu juga dengan Islam secara resmi
disokong untuk menunaikan ibadah Haji ke Mekkah sebagai salah satu wujudhukum
Islam yang harus dipenuhi, Lembaga-lembaga Pekabaran Injil diperbolehkan
secara bebas masuk ke Indonesia.
C. Penutup
Dengan mempelajari sejarah kita dapat mengerti banyak hal yang terjadi
sebelum kita ada di dunia ini, karena itu Jika kita memiliki kekayaan, maka
sisipkanlah sebagian untuk menuntut ilmu. Karena itu adalah investasi terbaik.
Comments
Post a Comment